LTN PCNU Kabupaten Cirebon Latih Kader NU di Madrasah AI Future Skills
Cirebon - Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cirebon menggelar pelatihan teknologi dan menyiapkan kader-kader Nahdliyin agar tidak tertinggal dalam arus perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Upaya itu dilakukan melalui kegiatan Madrasah AI Future Skills: Pelatihan Afiliator TikTok Berbasis AI dan Pemanfaatan Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan yang digelar di Gedung PCNU Kabupaten Cirebon, Selasa (23/6/2026).
Kegiatan Madrasah AI Future Skills ini diikuti 16 peserta dari berbagai wilayah di Kabupaten Cirebon. Madrasah AI ini tidak sekadar memperkenalkan teknologi AI, tetapi juga diarahkan untuk membekali kader NU dengan kemampuan menghadapi perubahan zaman, mulai dari penguatan literasi digital, pemanfaatan AI untuk pendidikan, hingga membuka peluang ekonomi melalui skema affiliate TikTok.
Ketua LTN PCNU Kabupaten Cirebon, Fasfah Sofhal Jamil, mengatakan penggunaan istilah “Madrasah” dalam pelatihan tersebut sengaja dipilih sebagai bentuk kesinambungan program peningkatan kapasitas kader yang selama ini digagas LTN PCNU Kabupaten Cirebon.
Pada kegiatan pelatihan sebelumnya, LTN telah menggelar sejumlah pelatihan serupa, seperti Madrasah Multimedia, Madrasah Jurnalistik, hingga Lensa atau Jurnalensa. Dan agar dapat melengkapi pelatihan sebelumnya, Madrasah AI Future Skills digelar sebagai kelanjutan dari upaya memperkuat kemampuan kader NU dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.
“Nama kegiatan pelatihan ini adalah dengan nama Madrasah. Hal ini sengaja digunakan agar berkesinambungan dengan pelatihan-pelatihan sebelumnya. Sebelumnya kami sudah mengadakan Madrasah Multimedia, Madrasah Jurnalistik, dan Lensa atau Jurnalensa,” ujar Sofhal.
Ia menilai, kemampuan memahami teknologi AI kini menjadi kebutuhan penting bagi kader Nahdlatul Ulama. Menurut Sofhal, kecerdasan buatan bukan lagi teknologi yang jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan telah menjadi bagian dari ruang digital yang akrab dengan masyarakat, termasuk generasi muda NU.
Karena itu, pelatihan teknologi Ai ini dimaksudkan agar anggota kader Nahdliyin tidak hanya menjadi pengguna teknologi pada umumnya, tetapi juga mampu memahami cara AI bekerja, menyikapi dampak negatifnya, dan menghindari konten berbahaya yang dibuat oleh AI.
“Tujuan pelatihan Madrasah AI ini agar kader-kader Nahdliyin mampu menepis konten negatif yang ternyata dibuat dengan AI,” katanya.
Selain membahas pemanfaatan AI dalam pendidikan dan literasi digital, kegiatan ini juga menghadirkan materi terkait TikTok. Materi ini diberikan sebagai bekal tambahan agar peserta memahami peluang ekonomi digital yang berkembang pesat di masyarakat saat ini.
Sofhal mengatakan, penguatan ekonomi menjadi bagian penting dari upaya membangun kemandirian kader dan organisasi. Karena itu, pelatihan mengenai program affiliate marketing dipandang relevan sebagai pintu masuk mengenalkan cara-cara baru memperoleh penghasilan di era digital, tanpa melepaskan nilai-nilai etika yang menjadi pijakan warga Nahdlatul Ulama.
"Kemandirian ekonomi merupakan hal yang terus digaungkan dalam kepengurusan NU, mulai dari tingkat bawah hingga Pengurus Besar. Pelatihan afiliasi TikTok ini juga membuat para peserta kuat dan kokoh secara ekonomi." katanya.
Sofhal mengingatkan bahwa AI memiliki keterbatasan namun demikian LTNU tetep mendorongnya untuk belajar sistem AI. Dia menyatakan bahwa meskipun AI memiliki kemampuan untuk menghasilkan banyak teks, foto, dan informasi dengan cepat, ia tidak memiliki rasa, empati, dan kesadaran moral seperti manusia.
Menurutnya, AI tidak memiliki rasa. Misalnya, mereka mampu menulis puisi dengan baik, tetapi mereka tidak memiliki rasa cinta.
Ia juga mengingatkan pada kemungkinan halusinasi AI—situasi di mana sistem kecerdasan buatan menghasilkan data yang tampaknya akurat tetapi tidak sepenuhnya akurat. Karena itu, kader NU yang menggunakan teknologi AI harus tetap membiasakan diri melakukan verifikasi, pengecekan ulang, dan pendalaman terhadap kebenaran akan fakta yang ada di setiap informasi yang diperoleh.
Bagi LTN PCNU Kabupaten Cirebon, kata Sofhal, pemanfaatan AI bukan sesuatu yang harus ditolak. Sebaliknya, teknologi tersebut dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat selama digunakan dengan pengetahuan yang cukup, pemahaman etika yang benar, dan kesadaran atas batas-batas penggunaannya.
“Kita tidak melarang warga Nahdliyin menggunakan AI, tetapi harus tahu rambu-rambunya,” terangnya.
Sofhal menilai perkembangan teknologi merupakan bagian dari perjalanan panjang peradaban manusia. Ia mencontohkan, media menulis yang digunakan manusia terus berubah dari masa ke masa, mulai dari batu, pelepah kurma, kulit hewan, kertas, komputer, hingga kini memanfaatkan kecerdasan buatan. Karena itu, menurut dia, perubahan teknologi semestinya direspons dengan kesiapan ilmu, bukan dengan ketakutan berlebihan.
“Sekarang menulis bisa menggunakan AI. Namun penggunanya harus dibekali ilmu yang cukup tentang AI agar tidak mengarah pada hal yang kurang baik,” katanya.
