Mbah Karmi Bategede Jepara Jual Bubur Untuk Berangkat Haji
Pemuatan Koper Haji sudah Berlangsung di Lingkungan Kemenhaj Jepara
Menjelang keberangkatan ke Tanah Suci, persiapan jamaah haji Kabupaten Jepara memasuki tahap akhir. Sejak Jumat (1/5/2026), proses pemuatan koper jamaah resmi berlangsung di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jepara, dengan dipantau langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Jepara, Siti Zuliyati, serta didampingi oleh Ka Subbag TU, Zubed Siamun Jihad.
Kegiatan dimulai pukul 15.00 WIB, melibatkan kolaborasi antara petugas Kemenhaj Jepara, Petugas Kemenag Jepara , PT Pos Indonesia, dan tenaga kerja bongkar muat (TKBM). Ratusan koper dari berbagai kloter disusun rapi, diperiksa secara cermat, kemudian dimuat ke dalam armada truk khusus yang telah disiapkan untuk pengiriman yang aman.
Secara keseluruhan, total koper jamaah haji Kabupaten Jepara mencapai 1.533 koper. Rinciannya, pada Jumat (1 Mei) telah dimuat sebanyak 867 koper untuk Kloter 36, 37, dan 38. Sementara itu, sebanyak 666 koper untuk Kloter 39 dan 40 dijadwalkan dimuat pada hari ini, Sabtu (2/5/2026) mulai pukul 15.00 WIB.
Kepala Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Jepara, Siti Zuliyati, menyampaikan bahwa proses pemuatan koper merupakan tahapan krusial dalam memastikan kesiapan logistik jamaah sebelum diberangkatkan ke Tanah Suci. Ia menegaskan bahwa seluruh proses dilakukan dengan penuh ketelitian dan pengawasan agar tidak terjadi kesalahan maupun kendala.
“Kegiatan pemuatan koper ini merupakan bagian penting dalam rangkaian penyelenggaraan ibadah haji. Kami memastikan seluruh proses berjalan tertib, aman, dan sesuai prosedur, mulai dari pemeriksaan hingga pengiriman ke Asrama Haji Donohudan,” ujarnya.
Setelah seluruh proses pemuatan dan penyegelan selesai, koper jamaah akan diberangkatkan ke Asrama Haji Donohudan, Boyolali sesuai jadwal yang telah ditentukan. Untuk Kloter 36, 37, dan 38 dijadwalkan berangkat pada Sabtu (2/5/2026) pukul 05.00 WIB, sedangkan Kloter 39 dan 40 pada Minggu (3/5/2026) pukul 05.00 WIB.
Pengiriman koper akan dilaksanakan dengan pengawalan ketat oleh petugas Seksi Perbekalan Kemenhaj Jepara dan anggota Polri guna memastikan keamanan serta kelancaran hingga tiba di tujuan. Seluruh tahapan dipersiapkan secara cermat dan terkoordinasi sebagai bagian dari upaya memastikan kesiapan maksimal jamaah haji Kabupaten Jepara menjelang keberangkatan ke Tanah Suci.
Jelang Keberangkatan, jamaah Haji Jepara Batal ke Tanah Suci Bertambah
Jumlah jamaah haji Kabupaten Jepara, Jawa Tengah yang batal berangkat ke Tanah Suci bertambah. Hingga dua hari sebelum keberangkatan, total ada enam calhaj yang batal berangkat.
Sebelumnya, pada 20 April 2025 lalu, Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Jepara melaporkan ada lima jamaah haji yang batal berangkat.
Bertambahnya jumlah jamaah haji yang batal ke Tanah Suci itu dikonfirmasi Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umroh Jepara, Siti Zuliyati.
Ia merincikan, satu orang meninggal yang kemudian pasangannya memilih tak berangkat, tiga orang sakit dan seorang pendamping yang karena yang didampingi sakit, akhirnya tak berangkat.
”Semula seluruh jamaah ada 1.547, jadi ada 6 jamaah yang lunas tunda (batal). Ada yang meninggal, ada yang sakit. Sehingga sekarang jumlah total menjadi 1.541 orang,” sebut Zuliyati, Jumat (1/5/2026).
Dia menjelaskan, jamaah haji Jepara akan diberangkatkan mulai 3 Mei 2026. Itu diawali dengan kelompok terbang (kloter) 36 yang akan digabungkan dengan rombongan jamaah haji Kabupaten Demak.
Lalu kloter 37, 38 dan 39 akan berangkat di hari yang sama. Sedangkan kloter 39 dan 40, akan diberangkatkan pada 4 Mei 2026.
Dia mengatakan, ada beberapa perubahan teknis. Seperti penempatan jamaah yang semula direncanakan di Misfala. Kini berdasarkan hasil koordinasi terbaru, seluruh jamaah Jepara akan menempati kawasan Raudah di Madinah.
”Alhamdulillah, jamaah haji Jepara mulai kloter 36-40 akan berada di kawasan Raudah,” kata dia.
Selain itu, jamaah haji Jepara juga akan mendapatkan skema Tanazul selama di Tanah Suci. Skema ini memungkinkan jamaah kembali ke hotel setelah menjalani rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah dan Mina.
Mbah Karmi Tukang Bubur Naik Haji dari Jepara
Perjuangan panjang pasangan suami istri asal Desa Bategede, Kabupaten Jepara, akhirnya berbuah manis. Mbah Kusrin dan Mbah Karmi, yang sehari-hari berjualan bubur jagung keliling, segera mewujudkan impian mereka untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci tahun ini.
Di tengah penghasilan yang tidak menentu, Karmi (68) bersama sang suami tetap teguh dan disiplin menyisihkan sebagian kecil keuntungan setiap hari. Dengan kesabaran dan ketekunan, mereka membangun harapan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.
Menariknya, tabungan mereka tidak disimpan dalam bentuk uang di bank. Pasangan ini memilih cara sederhana namun cerdas, yakni menginvestasikannya dalam bentuk hewan ternak seperti ayam, kambing, hingga sapi.
Hewan-hewan tersebut kemudian dijual saat nilainya meningkat, dan hasilnya digunakan untuk biaya pendaftaran haji.
Setelah 18 tahun menabung dari hasil berjualan bubur jagung keliling, pasangan lansia ini akhirnya akan berangkat menunaikan ibadah haji pada tahun 2026.
Keduanya tergabung dalam Kloter 38 yang dijadwalkan berangkat dari Pendopo Jepara menuju Asrama Haji Donohudan, Boyolali, pada Minggu, 3 Mei 2026.
Kisah perjuangan Mbah Karmi menjadi potret ketekunan yang menginspirasi. Ia menjajakan bubur jagung dengan harga Rp2 ribu per bungkus, lengkap dengan aneka lauk pauk yang dijual mulai dari Rp1 ribu hingga Rp5 ribu.
Seluruh dagangannya dibawa menggunakan dunak, wadah besar dari bambu yang digendong dengan selendang, sambil berjalan kaki menyusuri kampung demi kampung.
Meski usia tak lagi muda, semangat Karmi tak pernah surut. Ia tetap berjualan setiap sore hingga menjelang maghrib. Dari penghasilan sederhana itulah, ia dengan disiplin menyisihkan sebagian uangnya untuk ditabung.
Di sisi lain, sang suami, Kusrin, yang berprofesi sebagai petani sekaligus peternak, mengelola tabungan tersebut secara produktif. Uang yang terkumpul dibelikan hewan ternak seperti ayam, kambing, hingga sapi untuk kemudian dirawat dan dikembangkan.
Ketika nilai ternak meningkat, hewan-hewan tersebut dijual sebagai biaya pendaftaran haji. Pada tahun 2019, pasangan ini akhirnya resmi mendaftar haji setelah menjual dua ekor sapi dengan nilai mencapai puluhan juta rupiah. Penantian panjang itu berbuah manis saat mereka mendapatkan panggilan berangkat tahun ini melalui program prioritas lansia.
Kini, menjelang hari keberangkatan, seluruh persiapan telah rampung. Koper dan perlengkapan haji telah disiapkan, menandai awal perjalanan suci yang telah mereka perjuangkan selama hampir dua dekade.
Kisah Kusrin dan Karmi menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih impian. Dengan kerja keras, ketekunan, serta keyakinan yang kuat, mereka akhirnya dapat melangkah lebih dekat menuju Tanah Suci.

