Sejarah MWC NU Jepara Kota masa 1955-1975

Sejarah MWC NU Jepara Kota masa 1955-1975. Keberadaan pergerakan NU di kota Jepara tidak bisa dilepaskan dari dua nama desa/daerah yaitu Saripan dan Ujungbatu

Berikut adalah Sejarah dari Keluarga Besar MWC NU Jepara Kota dari tahun ke tahun, yaitu sebagai berikut:

1. Rois Syuriyah: K.H. Moh. Faqih – K. Ali Ridlo
Ketua Tanfidziyah: H. Fauzan Hasyim
Masa Khidmah : 1955- 1975

2. Rois Syuriah : K.H. Moh. Faqih – K. Faqih
Ketua Tanfidziyah : H. Ahmad Mubin
Masa Khidmah : 1975- 1980

3. Rois Syuriah : K.H. Moh. Faqih – K. Ali Ridlo
Ketua Tanfidziyah : H. Ahmad Isyhar
Masa Khidmah 1980- 1985

4. Rois Syuriah : K.H. Fatchulloh Yasin
Ketua Tanfidziyah : K. Ali Ikhsan
Masa khidmah: 1985- 2000

5. Rois Syuriyah : K.H. Abdul Wahab Aziz
Ketua Tanfidziyah : K.H. Ali Ikhsan
Masa Khidmah: 2000- 2005

6. Rois Syuriah : K.H. Ali Ikhsan
Ketua Tanfidziyah : H. Noor Sholeh, S.Pd
Masa Khidmah: 2005- 2010

7. Rois Syuriah : K.H. Ahmad Isyhar
Ketua Tanfidziyah : K. Hamzah
Masa Khidmah : 2010- 2020

Berikut adalah sejarahh dari periode pertama yaitu sebagai berikut:

1. MWC NU Jepara Kota Periode: KH. M. FAQIH  - H. FAUZAN HASYIM (1955-1975)

Keberadaan pergerakan NU di Kabupaten Jepara tidak bisa dilepaskan dari dua nama desa atau daerah, yaitu Desa Saripan dan Desa Ujungbatu. Hal ini karena dari dua daerah inilah muncul tokoh gerakan perlawanan baik kepada Pemerintah Kolonial Belanda dan Jepang, maupun terhadap gerakan ekstrem kiri yaitu Gerakan 30 September PKI.
Sebelum kemerdekaan Republik Indonesia terwujud, tokoh-tokoh NU bekerja sama dengan Gerakan Pemuda Anshor di Jepara kota menggalang kekuatan untuk melawan kolonial Belanda dan Jepang dan bersama-sama menghadapi Gerakan 30 September PKI. Sejarah mencatat bahwa sekitar tahun 1957, telah terbentuk kepengurusan IPNU Cabang Jepara yang dimotori oleh Sahabat Ahmad Mubin Saripan, Sahabat Muchlas Anwar Bapangan, Sahabat Muchibbi Anwar Bapangan, Sahabat Ali Asfan Potroyudan, Sahabat Moh. Taufiq Saripan, Sahabat Abdul Latief Potroyudan, Sahabat Nur Syafiq Bandengan.

Pada tahun 1959, Pengurus Cabang IPNU Kabupaten Jepara mengikuti kongres IPNU di Cilacap Jawa Tengah. Dan tahun 1962, mengikuti kongres IPNU di Surabaya. Kemudian tahun 1962-1967, Anshor Jepara dikenal dengan kepiawaiannya memainkan “drum band”. Ketenaran dan terkenalnya drum band milik Anshor ini menjadi “icon” tersendiri bagi NU di Jepara, yang merupakan basis dari masyarakat NU.

Kiprah IPNU Jepara tidak bisa dilepaskan dari peran yang dimainkan oleh Sahabat Ahmad Mubin dan teman-temannya, juga dengan peran yang dimainkan oleh Bapak Ismail (Panggang) dan Bapak KH. Zubaidi Ali (Panggang). Bapak Ismail selaku Ketua DPRD Jepara saat itu, telah membantu NU khsususnya IPNU secara totalitas dalam hal administratif keorganisasian. Beliau dengan pengalamannya di bidang pemerintahan telah banyak membantu perjalanan organisasi IPNU.

Beliau dengan Bapak Rifa’i Sendang dikenal sebagai “Singa Podium” yang mampu menggetarkan jiwa bagi orang yang mendengarkan pidatonya, dan beliaulah yang pertama kali mengenalkan kepada masyarakat dan dalam tentang Jam’iyyah Manaqib Mbah Chusnaini Surabaya, yang pada akhirnya banyak masyrakat yang ikut bergabung dalam jam’iyyah tersebut. Sedangkan Bapak KH. Zubaidi Ali mempunyai peran sebagai “perantara” antara para Kiai NU dan pemerintah. Beliau menggantikan posisi Bapak Ismail dan pernah menduduki jabatan sebagai YMT Bupati Kepala Daerah Kabupaten Jepara sekitar tahun 1965-1967 yang berasal dari kalangan politisi. Merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi warga NU karena salah satu kader terbaiknya menjadi pemimpin daerah.

Setelah selesai dalam pergulatan organisasi dan pemerintahan, Beliau berkhidmah di NU sebagai sesepuh thoriqoh. Pada akhir hayatnya, Beliau menjadi “Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wan Naqsyabandiyah” Jepara (dari jalur sanad Mbah K.H. Arwani Kudus).

Dalam perjalanan awal terbentuknya organisasi NU di Jepara umumnya dan Kecamatan Jepara khususnya, dimotori oleh para Kiai NU dengan dibantu oleh kaum muda NU. Tercatat beberapa nama tokoh muda yang ikut membantu mengembangkankan NU di Jepara, seperti Ustadz Aminurrohman Fauzan Demaan, Ustadz Fauzan Rohmat Kauman (menantu KH. Ahmad Fauzan), Ustadz Farhanuddin Demaan, Ustadz Fauzi Kauman.

Pada masa duet kepemimpinan yang pertama, sebagai Rois Syuriyahnya adalah K.H. Moh. Faqih Saripan dan Ketua Tanfidziyahnya adalah H. Fauzan Hasyim Demaan. Saat itu wilayah Kecamatan Jepara meliputi Jepara Kota dan Tahunan. Sedangkan tampuk kepemimpinan NU Kabupaten Jepara dipegang dua tokoh sentral NU Jepara yaitu K.H. Ahmad Fauzan dan K.H. Abdur Rosyid.

Biografi KH. Moh. Faqih

K.H. Moh. Faqih adalah seorang kiai kharismatik di desa Saripan. Beliau adalah tokoh NU yang menggagas adanya pengajian idaroh NU, yaitu pengajian yang dilaksanakan oleh pengurus NU bersama warga bergiliran dari satu desa/ranting ke desa/ranting yang lain. Beliau adalah pendiri pondok pesantren “Roudlotul Mubtadiin” yang beralamatkan di Jl. K.H.Yasin RT.01/04 Saripan – Jepara.

Putra-putri keturunan KH. Moh. Faqih kebanyakan memiliki kelebihan kemampuan dalam hal menghafal Al-Qur’an, seperti Ustadzah Nung (yang dinikah oleh Ustadz KH. Sa’dulloh Miftah (alm) Panggang – asli Pekalongan) dan Ustadzah Jannah (isteri Bapak H. Tatang Potroyudan). Sedangkan putra tertua KH. Moh. Faqih adalah KH. Ulil Abshor yang aktif dalam organisasi NU dan Thoriqoh. KH. Ulil Abshor adalah Wakil Rois Syuriyah MWC NU Kecamatan Jepara masa khidmat 2010-2020.

Sebagai seorang Kiai panutan ummat, KH. Moh. Faqih tidak berjalan sendiri dalam memutuskan suatu masalah yang dihadapi ummat, tetapi senantiasa melakukan musyawarah bersama kiai lainnya seperti K. Ali Ridlo Ujungbatu. Kedekatan dua kiai ini bagaikan “perangko” yang melekat secara dhohir dan batin, juga sebagaimana kedekatan antara Mbah KH. Ahmad Fauzan dan Mbah KH. Abdur Rosyid.

Biografi H. Fauzan Hasyim

Bapak H. Fauzan Hasyim adalah seorang pegawai negeri sipil di lingkungan KUA Jepara, yang didaulat oleh para kiai untuk memimpin MWC NU sebagai Ketua Tanfidziyah MWC NU Jepara mendampingi KH. Moh. Faqih sebagai Rois Syuriyah-nya, pada masa awal perjalanan NU, dimana NU sebagai organisasi kemasyarakatan, masih memerlukan pembenahan dalam berbagai bidang.

Sebagai seorang “abdi Negara” yang berkecimpung dalam bidang birokrasi, beliau memberikan sumbangsih yang begitu banyak dalam tata kelola manajemen keorganisasian NU. Dimana, NU dikenal sebagai organisasi yang “tidak” begitu memperhatikan “administrasi”, tetapi lebih menekankan pada realitas menata kehidupan ummat, dhohiron wa bathinan – dun_yan wa ukhron. Di tangan dingin beliau, NU ditata sedemikian rupa dalam upaya menjadikan organisasi yang sehat-profesional dalam penataan manajemen yang baik dan berkualitas.

Sampai saat ini, keturunan beliau yang masih eksis dalam bidang dakwah Islamiyyah adalah Ustadz H. Chariri, yang aktif dalam memberikan mau’idloh dalam pengajian masyarakat warga NU di daerah Demaan.

Biografi KH. A. Fauzan

KH. Ahmad Fauzan dilahirkan kurang lebih pada tahun 1320 H/1905 M di dukuh Penggung, Gemiring Lor, Kec. Nalumsari. Dari keluarga Ibu Nyai Thahirah binti K. Harun bin Kyai Arif dan KH. Abdul Rasul bin Kyai Ahmad Sanwasi.

Kyai Ahmad adalah salah satu dari lima ulama non koorperatif terhadap kolonial Belanda di kawasan Pantai Utara Pulau Jawa. Lima Ulama’ tersebut ialah: Mbah Sulaiman (Raden Ngabei Brontodiwiryo, makamnya di Jakenan, Pati), Mbah Abu Sujak, Mbah Mursidin, Mbah Bunggoro dan Mbah Ahmad Sanwasi (kakek Mbah Fauzan, makanya di Penggung dekat Bale Kambang Mayong Jepara).

Beliau berangkat dari keluarga sederhana, santun, relegius dan alami. Kondisi keluarga yang demikian itulah yang menumbuhkan berkah tersendiri bagi beliau KH. Ahmad Fauzan untuk membina keluarga dan masyarakat di sekitarnya.

Background Pendidikan

Pada awalnya beliau mengaji, belajar agama di pesantren Bale Kambang Kec. Kec. Nalumsari) selama tiga tahun. Pada masa remaja, beliau diasuh oleh Hadrat Al-Syaikh Al-Mghfur lahu Chasbullah (ayah KH. Abdulllah Handziq). Di pesantren ini, beliau mengaji kitab nahwu-sharaf mulai dari al-jurumiyyah sampai alfiyah dengan hafalan kecuali kitab mutammimmah, dan lain-lain.

Beliau mengaji di pesantren Al-Syaikh al-‘Allamah KH. Khalil Rembang bersama KH. Abdur Rosyid bin KH. Zain dan KH. Nur Ali bin KH. Abdul Qodir. Beliau juga mengaji di pesantren KH. Khalil Gemiring Kidul dalam dua periode, pertama tujuh bulan dan periode kedua selama empat bulan dengan mengkhatamkan berbagai kitab syarakh seperti syarakh al-Barzanji, syarah Aqidatul Awam, dan lain-lain.

Pada tahun 1340 H-1342 H/1922 M-1924 M, bekal pendidikan pesantrennya disempurnakan dengan mengaji atau belajar di Makkah al-Mukaromah, sambil nyantri beliau menghafal Al-quran tetapi hanya sampai surat an-nisa’ juz IV dan V. Dalam rangka mengembangkan dan meningkatan wawasan keilmuwan serta keberkahan ilmu beliau mengaji di pesantren Hadrat al-Syaikh KH. Sholeh Amin, Tayu Kabupaten Pati selama lima tahun dari tanggal 6 Dzul Qa’dah 1346 H/25 April 1928 M sampai dengan Sya’ban 1351 H/Desember 1932 M. Di Tayu inilah al-Maghfirlahu ditempa menjadi pemimpin umat.

Mulai tanggal 19 Syawal 1351 H/13 Pebruari 1933 M menghafal Alqur’an dengan disema’ oleh KH. Moh. Zuhri dan Khatam pada hari Ahad tanggal 1 Shafar 1353 H/9 Juni 1934 di Bangsri.

Dalam tradisi pesantren kita mengenal istilah yang disebut “santri keliling”. Maksudnya, seorang santri yang tidak hanya belajar di satu pesantren, ia berpindah-pindah dari satu pesantren ke pesantren yang lain dengan tujuan mengejar ilmu pengetahuan agam sesuai dengan spesialisasi ilmu yang dimiliki san Kyai. Maka begitulah proses yang dialami oleh KH. Ahmad Fauzan sejak kecilnya.

Visi Pendidikan

Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar yang membentuk watak dan prilaku secara sistemati, terencana, dan terarah. Beliau menyadari sepenuhnya akan pentingnya pendidikan bagi perkembangan dan kemajuan umat. Maka beliau dengan penuh kecermatan, ketelitian dan ketelatenan hendak mengembangkan pendidikan dari berbagai sektor.

Visi pendidikan yang hendak dikembangkan KH. Ahmad Fauzan adalah pendidikan dalam pengertian yang integratif dan akomodatif. Sebuha pendidikan yang mampu menyentuh dalam berbagai macam disiplin ilmu (ilmu hal maupun ilmu mustqbal).

Sepulangnya dari pesantren, Al-Maghfurlahu langsung terjun di tengah-tengah masyarakat dengan mendirikan masjid dan madrasah di Bangsri yang disponsori oleh Al-Maghfurlahu Mbah K. Abdul Syakur. Selain itu satu kontribusi oleh beliau dalam bidang pendidikan adalah membangun sebuah madrasah di sebuah desa Cepogo (desa di Kec. Bangsri) yang ketika itu dalam kondisi dan suasan genting, yakni dalam pengejaran tentara kolonial Belanda.

Semangat untuk khidmah kepada ilmu sangat besar, beliau sangat produktif dalam membuat syair (nadhoman), baik berbahasa Arab, bahasa Jawa maupun Indonesia. Disamping beberapa pemikiran beliau yang sifatnya tertulis, sebenarnya masih banyak fatwa-fatwa, pitutur-pitutur dan tadzkirah- tadzkirah beliau yang telah disampaikan kepada masyarakat tetapi belum sempat dibukukan.

Perjuangan KH. Ahmad Fauzan

Pada zaman Jepang Al-Maghfurlahu mengalami penderitaan yang luar biasa, ditangkap dan disiksa oleh Jepang atas dakwaaan jajaran pamong praja Kabupaten Jepara sebagai biang kerusuhan dan kekacauan di kawasan Jepara. Kondisi ini disebut sebagai masa beliau dalam “pesakitan”. Namun karena tidak terbukti akhirnya beliau dibebaskan oleh Jepang.

Pada tahun 1945, suatu peristiwa yang menggemparkan, terjadi di wilayah Pati. Di wilayah ini para kyai berkumpul dan bermusyawarah bagaimana kiat-kiat agar tentara Jepang menyerah. Atas dasar aklamasi, para kyai menyepakati KH. Ahmad Fauzan untuk memimpin penyerangan melawan tentara Jepang. Niat yang tulus ikhlas dan tekad bulat beliau akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT, seluruh pasukan Jepang bertekuk lutut pada rakyat Indonesia di Pati.

Memasuki era kemerdekaan Al-Maghfurlahu sangat aktif pada gerakan-gerakan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan. Misalnya sebelum aksi polisi Belanda sampai di Jepara. Disamping itu, beliau sebagai figure pemimpin oleh Alm. Amin Fattah, serta beliau menggelar peng-asma-an bambu runcing di halaman masjid Darussalam Saripan Jepara. Disamping itu, beliau menjadi asisten bupati yang waktu itu dipimpin Bupati Militer Mayor Ishak.

Oleh karena itu beliau menjadi incaran tentara kolonial Belanda dimana saja dan selalu dikejar-kejar. Sehingga akhirnya ditangkap di Bangsri dan dimasukkan ke dalam sel tahanan Belanda di Jepara. Baru setelah terjadi penyerahan kedaulatan dari tangan Belanda kepada Republik Indonesia tahun 1949, beliau dibebaskan dari tahanan. Setelah bebas, beliau kembali ke masyarakat dalam rangka ikut mengisi kemerdekaan. Beliau langsung diangkat oleh pemerintahan RI dan diamanati membangun serta memimpin Kepala Kantor urusan Agama Kabupaten Jepara yang pertama setelah revolusi dan pernah menjadi anggotra DPRD.

Sekalipun menjadi elit birokrat, beliau tidak pernah melupakan jati dirinya yang berdarah santri. Hal itu terbukti ketika beliau mengadakan kun jungan di kantor-kantor KUA (Kantor Urusan Agama) kecamatan pasti dibarengi menghadiri pengajian masyarakat (yang sekarang menjadi pengajian idaroh syuriah) yang diprogramkan oleh beliau melalui kepala-kepala KUA di wilayah kecamatannya. Oleh karena itu beliau memberikan persyaratan kepada setiap kepala KAU harus dapat membaca kitab kuning.

Hasil dari kegiatan pengajian rutin tersebut, pada tahun 1955 dibawah kepemimpinan Al-Maghfurlahu KH. Ahmad Fauzan dan KH. Abdur Rosyid beserta dukungan penuh solid para kyai-kyai partai NU (Nahdlotul Ulama’) Jepara mengukir kemenangan mutlak dalam pemilu RI tahun 1955. Dengan cara dan sikap integritas serta akomodatif yang dimilikinya, beliau berhasil menjalin komunikasi dengan semua pihak baik kawan maupun lawan.

Falsafah Kehidupan

Falsafah hidup beliau adalah berjuang demi agama, nusa bangsa dan negara melalui berbagai aspek kehidupan selama masih dalam koridor mashalaih lil ‘alamin dan tidak bertentangan dengan hukum syara’. Sikap toleran (tasamuh) dan kasih sayang (tarahum) kepada sesama diakui segenap selemen masyarakat. Demikian ini terungkap dalam syairnya dalam bahasa Jawa :
Rakyat podo bungah, kabeh podo seneng # fekir miskin terpelihara ora gremeng
Perjuangan nabi conto kanggo umat # kemerdekaan kesempurnaan dunya akhirat
Lawanmu iku mung werno loro (2) # musuh agomo negoro karo
Liyane iku dulurmu kabeh # mulo rukun asih lan sumeh

Detik-detik Wafat KH. Ahmad Fauzan
Salah hal yang tidak boleh dilupakan bahwa kita semua milik Allah SWT dan hanya kepada Allah tempat kita kembali. Detik-detik kepergiannya ke rahmatullah, beliau masih dalam keadaan muthala’ah kitab tafsir yang kebetulan sedang disowani Alm. Abdul Hamid, seorang kepercayaan beliau sebagai bendahara/bagian keuangan ketika beliau menjabat sebagai Kandepag Jepara.

Akhirnya tepat hari Selasa, 6 Robi’us Tsani 1933 H atau bertepatan dengan 17 Mei 1972 M, pukul 11.00 WIB beliau kembali ke rahmatullah. Menjelang pemakaman, ada musyawarah yang cukup melibatkan banyak orang, ada beberapa pendangan tentang tempat pemakaman. Ada yang berpendapat sebaiknya dimakamkan di Jepara karena beliau kyainya orang Jepara, ada pula yang menginnginkan di Bangsri karena istri beliau yang terakhir di Bangsri. Sebagai jalan tengah, KH. Amin Sholeh, Allahu yarhamuh, memberikan fatwa agar keputusan pemakaman ini dekembalikan/diserahkan kepada istri beliau yang masih hidup, yaitu Ibu Hj. Mu’minah. Beliau (Ibu Hj. Mu’minah) menyarankan agar dimakamkan di Bangsri. Akhirnya semua keluarga, para tokoh dan masyarakat kaum muslimin sepakat menerima keputusan tersebut.

Akhirnya beliau dimakamkan di pemakaman Suromoyo Kedungleper Ampean Bangsri Kabupaten Jepara. Hadir ketika pemakaman, KH. Arwani Amin Kudus, KH. Abdullah Hadziq Balekambang Mayong Jepara, KH. Abdullah Salam Kajen Pati dan ulama’-ulama’ se-Karesidenan Pati. Hadir pula para pejabat Pemerintahan Kabupaten Jepara, termasuk Bapak Bupati Muhadi, S.H. Dalam sambutannya, Bupati mengatakan bahwa Al-marhum Al-Maghfurlah KH. Ahmad Fauzan disamping seorang ulama’ dan politikus terkenal juga seorang pahlawan yang disegani penjajah. (Sumber : “Dinamika Kebangkitan Ulama: Visi Misi dan Perjuangan KH. Ahmad Fauzan”).

K.H. Abdur Rosyid

K.H. Abdur Rosyid adalah sahabat karib seperjuangan dengan K.H. Ahmad Fauzan dalam mensyi’arkan Islam di Bumi Kartini pada umumnya, dan khususnya adalah mengembangkan serta menyebarluaskan faham ASWAJ (Ahlussunnah Wal Jamaah) di tengah-tengah masyarakat Jepara.

K.H. Ahmad Fauzan dan K.H. Abdur Rosyid adalah kiai sepuh yang sangat terkenal di masyrakat Jepara dan sekitarnya, karena perjuangan dan pengorbanannya yang begitu besar bagi keberlangsungan NU, baik secara jama’ah maupun jam’iyyah, secara kultural maupun struktural. Karena jasa-jasa mereka, maka tiap tahun diadakan peringatan “HAUL” untuk kedua kiai tersebut, baik secara intern oleh keluarga maupun ekstern oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Jepara bersama masyarakat; dengan menghadirkan para muballigh terkenal, diantaranya adalah K.H. Sya’roni Ahmadi Kudus, yang merupakan salah satu santri Mbah K.H. Ahmad Fauzan.

K.H. Abdur Rosyid menurunkan keturunan seperti K.H. Munif (alm) Bapangan, Ibu Hj. Sechah (isteri K.H. Abdul Wahab Aziz) Saripan. Seiring perjalanan waktu, NU merangkak dan berjalan tertatih-tatih karena faktor situasi dan kondisi politik saat itu. Untuk mensiasati keadaan tersebut, para nahdhiyyin berkreasi sesuai dengan kemampuannya agar mampu berkiprah. Salah satu kreasi yang muncul adalah SERNEMI. Berada di desa Ujungbatu (sekitar tahun 1963-1964) dibentuklah SERNEMI (Serikat Nelayan Muslimin Indonesia) dengan ketua K. Ali Ridlo dan K. Zaenal Arifin, dan dibentuk pula satgasnya yang bernama BRINEL (Brigadir Nelayan) yang diketuai oleh Bapak Abdullatif Ujungbatu. SERNEMI ini dalam kegiatannya dibantu oleh PERTANU (Persatuan Petani NU) dari desa Kecapi.

SERNEMI sebagai salah satu kekuatan rakyat, khususnya NU, memiliki peran yang strategis, baik dalam rangka mengadakan perlawanan dengan penjajah Belanda, maupun dalam melestarikan budaya masyarakat dan mempersatukan warga NU. Pada sekitar tahun 1968-1969, SERNEMI yang diketuai oleh K.Ali Ridlo dan K. Zaenal Arifin (sama-sama dari Ujung batu), dengan bantuan Bapak Sapar Khotim selaku Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Jepara, mengikuti Lomba Seni Budaya Tingkat Jawa Tengah di kota Semarang yang diikuti oleh perwakilan dari berbagai kota kabupaten. Alhamdulillah, berkat usaha kerja keras dan do’a dari semua pihak, akhirnya SERNEMI dengan Jidurnya berhasil menjadi juara 1, mengalahkan grup drumband dari kontingen Semarang dan Pekalongan.

Dengan kemenangan itulah, SERNEMI diakui keberadaannya baik oleh masyarakat pada umumnya dan pemerintah Kabupaten Jepara khususnya. Realita keberadaan SERNEMI sebagai “wadah kreatifitas anak bangsa” memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi generasi berikutnya. Muncullah kader-kader SERNEMI yang ikut berpartisipasi dalam gerak langkah pembangunan bangsa, khususnya dalam bidang wisata bahari.

Para nelayan sebagai salah satu sumber daya NU, melalui SERNEMI, telah mampu memberikan yang terbaik untuk NU. Tidak hanya itu, para tokoh nelayan di sekitar Ujungbatu – Jobokuto – Ngemplak, juga telah memberikan pengorbananya untuk NU dan NKRI dalam upaya bersama-sama menghadapi Gerakan 30 S/PKI.

Alkisah : pada saat meletus G30S/PKI, dimana saat itu pasukan RPKAD datang merayap ke wilayah Jepara di Ujungbatu. Suasana dalam masyarakat begitu menegangkan, melihat datangnya pasukan dengan senjata lengkap. Pasukan RPKAD bekerja sama dengan NU (Ansor) bersatu padu menumpas PKI. Meraka bahu membahu, membantu satu dengan yang lainnya dalam upaya melawan pergerakan ekstrem kiri tersebut. Muncullah para tokoh relawan NU di Ujungbatu seperti K. Ali Ridlo, Mbah Lurah Shiddiq, K. Zaenal Arifin, H. Abdurrohim; yang ikut berperan aktif dalam penumpasan PKI. Keberanian mereka dilandasi dengan keimanan-keyakinan kepada Allah SWT dan berbekal “penjalin” yang sudah diijazahi oleh Mbah K.H. Umar Syarif (menantu Mbah Kiai Baidlowi Tanggulangin Sidoarjo). Dengan semangat “amar ma’ruf nahi mungkar” dan senjata penjalin tersebut, para tokoh NU dan pemuda Ansor tidak gentar melawan PKI. Perlawanan NU terhadap gerakan PKI di Ujungbatu, mendapat bantuan dari tokoh yang lain seperti Mbah Ali Ridlwan (merbot Masjid Ujungbatu), Bapak Syafi’i Ujungbatu (asli Bangsri – alumni Matholi’ul Falah Kajen- Mbah Abdullah Salam Kajen), Bapak Syahid Ujungbatu, Bapak Ahmad Tahrir Ujungbatu, Bapak H. Munawwar Ujungbatu dan Bapak A. Muthahar Ujungbatu. Pergolakan melawan PKI juga terjadi di desa lain seperti Saripan dan sekitarnya yang dikomando oleh para tokoh NU seperti K.H. Zubaidi Ali Panggang, H. Ali Irfan Krapyak, H. Ismail Panggang, H. Zaenuri Abdul Qodir Panggang.

Kegiatan NU secara keseluruhan mendapatkan perhatian khusus dari masyarakat, juga ditopang oleh Banom-nya seperti Muslimat NU-Fatayat NU-dan kalangan muda NU yang pada saat itu bergabung dalam Gerakan Pemuda ANSOR, khususnya BANSER, yang memainkan peran penting dalam penumpasan G30S/PKI. Dimana, pasukan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) atas nama Pemerintah Republik Indonesia, dalam upaya memberantas gerakan PKI di Indonesia, bekerja sama dengan BANSER yang saat itu di komandani oleh Ahmad Musyahid Ujungbatu dan M. Rodhi Saripan-Bapangan les dengan dibantu oleh Masrikan Pengkol, Kaidi Panggang, Kemi Pengkol, Tafrikhan Saripan.
Kerjasama ini dilakukan secara in-formal dalam bentuk “keterikatan moral” sebagai warga Negara Indonesia dan formal dalam bentuk pemberian senjata “senapan laras panjang” dari RPKAD kepada kedua orang tersebut untuk membantu penumpasan PKI. Sungguh, suatu kepercayaan yang begitu berharga dan sebagai amanah yang wajib dijaga. Para anggota PKI yang tertangkap pada akhirnya dibawa ke daerah Dogo di wilayah pantai Bandengan dan daerah Pelang kecamatan Mayong untuk dieksekusi.

Peran besar yang dimainkan oleh BANSER NU, juga diperlihatkan pada saat terjadinya ketegangan antara Republik Indonesia dan Malaysia tentang batas wilayah territorial. Karena ketegangan tersebut, menjadikan Indonesia dan Malaysia “perang dingin” dan dalam masyarakat Indonesia terkenal istilah “Ganyang Malaysia” tahun 1964. Peran aktif yang dimainkan oleh Pemuda Ansor Jepara dengan dasar mengikuti Kebijakan Pemerintah Pusat Indonesia, melakukan demonstrasi besar-besaran di alun-alun Jepara untuk menentang Malaysia.

COMMENTS

Name

AjaranNU,7,Akidah,6,AmaliyahNU,7,Antihoax,3,Bandengan,3,Banom,25,Banser,3,Bapangan,2,Bulu,2,Demaan,2,Fatayat,4,Gpansor,5,Hikmah,14,Internasional,13,IPNU IPPNU,9,Jatman,2,Jepara,24,Jobokuto,2,JQH,4,Kajian,19,Karangkebagusan,1,Kauman,1,Kedungcino,3,Keislaman,20,Kuwasen,3,Lakpesdam NU,1,LAZISNU,1,LBMNU,2,LDNU,4,LESBUMI,1,LFNU,1,LKNU,2,LPBHNU,1,LPNU,1,LTMNU,2,LWPNU,1,Maarif,6,Mulyoharjo,1,Muslimat,6,MWCNU,18,Nasional,25,News,52,NU,20,NUabad21,4,NUDunia,5,Pagarnusa,1,Panggang,1,Pendidikan,6,Pengkol,1,Potroyudan,1,RMI,5,Saripan,3,SejarahNU,7,Tokoh,7,Ujungbatu,1,Wonorejo,3,Ziarah,10,
ltr
item
Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Jepara Kota: Sejarah MWC NU Jepara Kota masa 1955-1975
Sejarah MWC NU Jepara Kota masa 1955-1975
Sejarah MWC NU Jepara Kota masa 1955-1975. Keberadaan pergerakan NU di kota Jepara tidak bisa dilepaskan dari dua nama desa/daerah yaitu Saripan dan Ujungbatu
https://1.bp.blogspot.com/-jP-i2krvva4/XHKOF6UpZpI/AAAAAAAAAgc/EPqlALNTfDIBweE-GxdKtLdV01hXtVV5ACPcBGAYYCw/s320/muskercab1.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-jP-i2krvva4/XHKOF6UpZpI/AAAAAAAAAgc/EPqlALNTfDIBweE-GxdKtLdV01hXtVV5ACPcBGAYYCw/s72-c/muskercab1.jpg
Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Jepara Kota
https://www.mwcnujepara.com/2019/06/sejarah-mwc-nu-jepara-kota-masa-1955.html
https://www.mwcnujepara.com/
https://www.mwcnujepara.com/
https://www.mwcnujepara.com/2019/06/sejarah-mwc-nu-jepara-kota-masa-1955.html
true
3557243800941901703
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy