Meyakini Adanya Allah Ta'ala Tanpa Tempat dan Tanpa Arah | Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Jepara Kota

Meyakini Adanya Allah Ta'ala Tanpa Tempat dan Tanpa Arah

Dua Perkara ini, Iman dan Islam, yaitu memperoleh karunia berupa aqidah (keyakinan) yang benar adalah sungguh nikmat yang terbesar, yaitu me...

Dua Perkara ini, Iman dan Islam, yaitu memperoleh karunia berupa aqidah (keyakinan) yang benar adalah sungguh nikmat yang terbesar, yaitu meyakini dan mengikuti aqidah dan ajaran Ahlussunnah wal-Jama'ah yang hanya diberikan oleh Allah Ta'ala kepada orang-orang yang dicintai-Nya.

Rasulullaah - shallallaahu 'alaihi wa-sallam - bersabda :

" ان الله عز وجل يعطى الدنيا من يحب ومن لا يحب ولا يعطي الدين الا لمن يحب "

( رواه الامام احمد بسند صحيح).

Maknanya :"Sesungguhnya Allah-'azza wa Jalla- itu memberikan kenikmatan keduniaan (seperti mendapatkan limpahan harta yang banyak melimpah, mobil banyak mewah, kesehatan jasmani, jabatan dan pangkat yang tinggi, keturunan yang banyak dan sebagainya) kepada orang-orang yang Allah Ta'ala cintai (yaitu kepada orang-orang yang beriman) dan juga kepada orang-orang yang tidak Allah Ta'ala cintai (yaitu orang-orang yang tidak beriman) dan Allah Ta'ala tidaklah memberikan nikmat agama (yaitu kenikmatan iman dan islam) kecuali hanya diberikan kepada orang-orang yang Allah Ta'ala cintai". (Hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang shahih).


Sesungguhnya ilmu yang membahas tentang Iman kepada Allah-'azza wa Jalla- dengan mengetahui sifat-sifat-Nya merupakan ilmu yang paling Utama dan mulia, Ilmu yang paling tinggi kedudukannya, Ilmu yang paling wajib diketahui dan hal Penting pertama yang harus diketahui. Ilmu ini dinamakan ilmu ushul (Dasar Agama), ilmu tauhid, ilmu kalam dan ilmu aqidah. Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallaam menyatakan secara tegas bahwa beliau sangat memperhatikan ilmu ini seraya bersabda:

أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللّهِ وَأَخْشَاكُمْ لَهُ

“Aku (Rosulullah Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam) adalah orang yang paling mengetahui tentang Allah Ta'ala dari pada kalian dan aku (Nabi Muhammad) adalah orang yang paling takut kepada Allah Ta'ala dari pada kalian.” (HR. al-Bukhari)

Maka ilmu ini merupakan ilmu yang paling penting untuk dicapai dan ilmu yang harus diutamakan dan diagungkan.

Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosa-dosamu dan bagi (dosa-dosa) orang-orang mukmin (mukmin laki-laki dan mukmin perempuan)” (Q.S. Muhammad: 19)

Di dalam ayat Alqur'an ini disebutkan bahwa perintah mengetahui tauhid lebih didahulukan dari pada perintah istighfar, karena tauhid berkaitan dengan ilmu ushul (dasar agama), sedangkan istighfar berkaitan dengan ilmu furu’ (ilmu tasawwuf). Maka mempelajari ilmu tauhid Wajib dan harus didahulukan dari pada ilmu fiqih, tasawwuf, hadits dan ilmu-ilmu lain. Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menyatakan bahwa ibadah yang paling utama secara mutlak adalah beriman kepada Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Rasulullah bersabda:

أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ إِيْمَانٌ بِاللّهِ وَرَسُوْلِهِ

“Perbuatan (Ibadah) yang paling utama adalah beriman kepada Allah Ta'ala dan Rasul-Nya.” (HR. al-Bukhari)

Ilmu tauhid ini, juga merupakan di antara syarat sah diterimanya suatu ibadah apapun, baik itu ibadah shalat, ibadah puasa, ibadah zakat, ibadah haji, ibadah shadaqah, ibadah berdzikir dan ibadah-ibadah lain-lain.

Orang yang tidak mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya, maka ibadahnya tidak diterima. Begitu juga orang yang mengenal/meyakini Allah dengan keyakinan yang salah, seperti meyakini Allah berada di langit, maka ibadahnya tidak diterima. Al-Imam al-Ghazali menyatakan:

لَا تَصِحُّ الْعِبَادَةُ إِلَّا بَعْدَ مَعْرِفَةِ الْمَعْبُوْدِ

“Tidak sah ibadah Seorang (manusia dan jin) kecuali setelah dia mengetahui Tuhan yang disembah.”

Perkara pertama ilmu tauhid yang wajib diyakini adalah Allah ada (wujud). Keberadaan Allah tidak sama dengan keberadaan makhluk. Bukti bahwa Allah ada adalah alam ini dengan segala isinya. Pergantian siang dan malam yang teratur, peredaran matahari dan bulan yang silih berganti, penciptaan manusia yang sempurna, berfungsinya anggota badan/tubuh dengan baik, butuhnya manusia akan udara serta air dan sebagainya. Peristiwa semua ini tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Hal ini pasti ada yang menciptakan dan yang mengaturnya, yaitu Allah ta’ala. Allah berfirman:

أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوْا فِي أَنْفُسِهِمْ مَا خَلَقَ اللّٰهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَإِنَّ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُوْنَ

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar dengan melihat kepada Tuhannya (di akhirat).” (QS. Ar-Rum: 8)

Oleh Karena itu, Ketahuilah bahwa Allah ada sebelum terciptanya alam, Allah ada sebelum terciptanya manusia, Allah ada sebelum terciptanya malaikat, Allah ada sebelum terciptanya jin, Allah ada sebelum bumi diciptakan, Allah ada sebelum langit dan arsy diciptakan, Allah Ada sebelum tempat dan arah diciptakan. Maka Sesungguhnya Allah Ada Tanpa Tempat dan Tanpa Arah.

Allah Ta'ala yang menciptakan semua makhluk ini. Allah menciptakan makhluk ini untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, Allah Tidak butuh kepada makhluk. Allah Menciptakan Tempat dan Tidak butuh pada Tempat. Allah menciptakan arah dan Allah Tidak butuh pada arah. Jadi, Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Allah tidak di langit, Allah tidak di arsy dan Allah tidak dimana-mana. Allah ada tanpa tempat, karena tempat adalah makhluk. Allah ada tanpa Arah, karena arah adalah makhluk.

Allah Ta'ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya.” (Q.S. Asy-Syura: 11).

Ayat 11 dari surat ASy-syura tersebut adalah ayat yang paling jelas dan gamblang di dalam al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah Ta'ala tidak menyerupai makhluk-Nya.

Al-Imam Abu Hanifah - radiyallahu 'anhu - menyatakan:

أَنَّى يُشْبِهُ الْخَالِقُ مَخْلُوْقَهُ

“Mustahil Allah menyerupai makhluk-Nya.”

Jelas Mustahil Allah menyerupai sifat-sifat makhluk. Karena diantara sifat-sifat makhluk adalah bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, naik, turun dan sebagainya.

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallaam bersabda:

كَانَ اللّٰهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُه

“Allah Ta'ala ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya.” (HR al-Bukhari, al-Baihaqi dan Ibn al-Jarud).

Makna hadits tersebut adalah bahwa Allah Ta'ala ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu-pun (selain-Nya). Pada Azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).

Sayyidina Ali -karomallaahu wajhah- berkata:

إِنَّ الَّذِيْ أَيَّنَ الْأَيْنَ لَا يُقَالُ لَه أَيْنَ وَإِنَّ الَّذِيْ كَيَّفَ الْكَيْفَ لَا يُقَالُ لَه كَيْفَ

“Sesungguhnya yang menciptakan tempat tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana (pertanyaan tentang tempat) dan yang menciptakan sifat-sifat makhluk tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana.” (diriwayatkan oleh Abu al-Muzhaffar al-Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hlm 98).

Imam ath-Thahawi menyatakan:

وَمَنْ وَصَفَ اللّهَٰ بِمَعْنًى مِنْ مَعَانِى الْبَشَرِ فَقَدْ كَفَرَ

“Dan barangsiapa yang mensifati Allah dengan salah satu sifat manusia, maka ia telah kafir (Keluar dari Agama Islam).”

Di antara sifat manusia adalah duduk, bertempat, bergerak, diam, berada pada satu arah atau tempat, berbicara dengan huruf, suara dan bahasa.

Imam Ahmad ar-Rifa’i berkata:

غَايَةُ الْمَعْرِفَةِ بِاللّٰهِ اْلإِيْقَانُ بِوُجُوْدِه تَعَالٰى بِلَا كَيْفٍ وَلَا مَكَانٍ

“Batas akhir pengetahuan seorang hamba tentang Allah adalah meyakini bahwa Allah ta’ala ada tanpa bagaimana (sifat-sifat makhluk) dan ada tanpa tempat.”

Inilah keyakinan Rasulullah, para sahabat, para imam mujtahid dan mayoritas kaum muslimin. Ulama’ tasawwuf yang telah mencapai derajat tinggi keyakinannya adalah Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah.

Imam Ahmad ibn Hanbal dan Imam Tsauban ibn Ibrahim Dzun Nun al-Mishri berkata:

مَهْمَا تَصَوَّرْتَ بِبَالِكَ فَاللّٰهُ بِخِلَافِ ذٰلِكَ

“Apapun yang terlintas dalam pikiranmu tentang Allah, maka Allah tidak seperti itu (Allah tidak bisa dibayangkan/dipikirkan).”

Allah adalah Tuhan, Allah tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Allah bukan benda dan bukan sifat benda. Oleh karena itu, Allah tidak bisa dibayangkan.

Imam Abu Bakar ash-Shiddiq berkata:

اَلْعَجْزُ عَنْ دَرَكِ اْلإِدْرَاكِ إِدْرَاكُ وَالْبَحْثُ عَنْ ذَاتِه كُفْرٌ وَإِشْرَاكُ

“Pengetahuan bahwa pemahaman seseorang tidak akan mampu untuk sampai mengetahui hakekat Allah adalah keimanan, sedangkan mencari tahu tentang hakekat Allah, yakni membayangkan-Nya adalah kekufuran dan syirik.”

Seseorang yang telah meyakini bahwa Allah ada, yang ada-Nya tidak sama dengan adanya makhluk, maka hal ini adalah keimanan yang benar. Sedangkan mencari tahu hakekat Allah sehingga membayangkan-Nya seperti makhluk, maka hal ini yang menyebabkan dia menjadi keluar dari agama Islam.

Jadi, Jangan pernah membayangkan Tentang Allah. Cukup saja meyakini bahwa Allah Ada tanpa tempat dan tanpa arah. Inilah aqidah Islam yang diajarkan oleh semua para nabi (dari Nabi pertama yaitu Nabi Adam sampai dengan nabi terakhir, Nabi Muhammad). Karena semua para nabi mempunyai keimanan yang sama, yaitu meyakini bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah.

Semoga Allah ta'ala senantiasa mengaruniakan hidayah, taufiq dan inayah-Nya kepada kita semua sehingga kita dikuatkan dalam memegang teguh ajaran Ahlussunnah Waljama’ah dan semoga kita dimudahkan dalam melaksanakan ajaran Islam dengan mudah, aamiin. (mwcnujepara)

COMMENTS

Name

AjaranNU,1,Akidah,4,AmaliyahNU,2,Bandengan,2,Banom,21,Banser,2,Bapangan,1,Fatayat,3,Gpansor,4,Hikmah,10,Internasional,9,IPNU IPPNU,5,Jepara,12,Jobokuto,1,JQH,3,Kajian,10,Kedungcino,1,Keislaman,12,Kuwasen,2,Lakpesdam NU,3,LBMNU,2,LDNU,1,LESBUMI,1,LFNU,1,LKNU,1,LPBINU,3,LTMNU,1,Maarif,5,Muslimat,3,MWCNU,10,Nasional,13,News,28,NU,6,NUDunia,3,Pendidikan,4,RMI,4,Saripan,2,SejarahNU,1,Tokoh,5,Wonorejo,1,Ziarah,6,
ltr
item
Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Jepara Kota: Meyakini Adanya Allah Ta'ala Tanpa Tempat dan Tanpa Arah
Meyakini Adanya Allah Ta'ala Tanpa Tempat dan Tanpa Arah
https://2.bp.blogspot.com/-nwz-aQD47O8/Wcmg8eUwiHI/AAAAAAAAAaM/j1-Bl1bE2Ac_W2zIoEx3_W5_kJ_1mCXrwCLcBGAs/s320/IMG_20160727_164328.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-nwz-aQD47O8/Wcmg8eUwiHI/AAAAAAAAAaM/j1-Bl1bE2Ac_W2zIoEx3_W5_kJ_1mCXrwCLcBGAs/s72-c/IMG_20160727_164328.jpg
Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Jepara Kota
http://www.mwcnujepara.com/2017/09/meyakini-adanya-allah-taala-tanpa.html
http://www.mwcnujepara.com/
http://www.mwcnujepara.com/
http://www.mwcnujepara.com/2017/09/meyakini-adanya-allah-taala-tanpa.html
true
3557243800941901703
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy